Nemu Duit

Peristiwa ini terjadi tahun 1981. Waktu itu ada acara selamatan di rumah mertua. Acaranya diadakan setelah bakda isya. Istriku dan anakku yang masih kecil (waktu itu baru punya anak satu) sejak pagi sudah ada disitu. Aku karena kerja dulu jadi kerumah mertua setelah pulang dari kantor. Kebetulan rute dari rumah ke kantor melewati depan rumah mertua. Acaranya hanya membaca doa bersama kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Selesai acara ibu mertua minta supaya nginep saja karena masih kangen sama cucunya. Karena harus nunggu rumah aku terpaksa pulang sendiri.
Dirumah nyetel tv acaranya nggak menarik. Waktu itu chanel tv cuma satu yaitu TVRI, jadi karena acara nggak suka terpaksa di matikan. Iseng karena belum mengantuk, aku buka-buka laci meja yang berada di kamar tidur sebelah yang tidak ditempati. Aku mengeluarkan kertas-kertas yang ada di laci, kemudian menemukan sebuah dompet yang masih baru. Dompet siapa ini pikirku. Perasaan aku tidak pernah beli dompet dalam beberapa bulan belakangan ini. Aku coba mengingat ingat. Dari bentuk dan warnanya sepertinya memang akau pernah beli dompet seperti itu. Tapi kapan dan dimana aku beli?. Belum juga bisa menebak lalu aku buka dalamnya. Betapa kagetnya aku, didalam dompet terdapat banyak uang kertas baru pecahan Rp.500,-. Aku tambah terheran-heran. Asal dompet belum tahu sekarang ditambah soal uang. Aku hitung uangnya berjumlah 30 lembar baru semua. Jadi nominalnya Rp.15.000,- . Kebetulan waktu itu istilahnya lagi tanggal tua, aku lagi “bokek”. Uang didompet yang ada dicelanaku hanya cukup untuk beli bensin motor dan makan siang sampai tanggal gajian. Aku girang bukan main lagi bokek nemu uang Rp.15.000,- perasaan seperti menang lotre. Aku berpikir , dari mana uang itu?

Aku kemudian tidur-tiduran sambil mengingat ingat akan dompet dan uang tersebut. Lama-lama mulai terkuak rahasia dompet itu. Dari bentuk, warna serta modelnya aku mulai ingat. Dompet tersebut aku beli waktu bertugas ke Banjarmasin. Itu terjadi tahun 1976 ketika aku masih bujangan. Dompet itu tidak langsung aku pakai karena dompet yang aku pakai saat itu masih bagus. Jadi dompet baru itu aku simpan saja. Aku masukkan dalam koper tempat pakaianku. Sekarang sudah jelas asal muasal dompet tersebut. Namun kenapa ada uang didalam dompet, aku masih belum bisa mengingat. Tapi sudahlah yang penting aku punya uang cukup banyak Rp.15.000,- . Banyak untuk ukuran orang yang nggak pernah punya uang banyak.

Kembali aku buka dompet tadi, namun aku agak terkejut. Setelah aku perhatikan gambarnya ternyata uang itu adalah uang yang sudah “tidak berlaku”. Uang tersebut sudah ditarik dari peredaran. Betapa lemes dan kecewanya aku. Sedang bokek dapat uang banyak tapi kok sudah nggak laku, sama aja boong kalau istilah sekarang. Aku akhirnya kembali benar-benar bokek. Aku tidur-tiduran lagi (mau tidur beneran juga nggak bisa) sambil memikirkan nasib beruntung tapi sial. Aku mengingat ingat lagi sambil mikir-mikir.

Lama-lama ada “sinar terang” dalam masalah uang ini. Aku ingat akan peraturan dari Bank Indonesia tentang penarikan uang itu secara bertahap. Aku baca peraturan itu waktu saya bertugas ke Banjarmasin itu. Aku ke Banjarmasin memang ditugaskan ke Bank Indonesia untuk merobah program “Rekening Koran” mesin pembukuan disitu. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa jika uang ditarik dari peredaran ada tahapannya, tapi persisnya aku tidak ingat. Yang jelas bila uang ditarik dari peredaran maka selama sekian bulan masih bisa ditukar di semua bank. Setelah itu hanya bisa ditukarkan di bank pemerintah selama periode tertentu. Terakhir uang tersebut masih bisa ditukar tetapi hanya di Bank Indonesia dan waktunya cukup lama yakni tahunan. Kembali timbul rasa senangku. Beberapa saat kemudian aku tertidur.

Pagi-pagi bangun terasa sepi nggak ada suara anak kecil. Biasanya sudah terdengar ocehannya si kecil. Aku masih mikir kejadian semalam terutama soal asal muasal uang, kok bisa ada uang Rp.15.000,- didompet yang belum pernah dipakai. Sedang soal agar uang itu bisa dimanfaatkan karena sudah ditarik sari peredaran, sudah ada jalan keluarnya. Tinggal kapan ke Bank Indonesia untuk menukarkan menjadi uang yang berlaku. Jam 7.15 aku berangkat kekantor dengan pertanyaan yang belum terjawab. Aku bawa beberapa lembar untuk bahan cerita di kantor.

Sampai di Kantor aku ceritakan kejadian semalam. Teman-teman pada heran kok bisa menyimpan uang sampai lupa. Aku tanya pada teman teman mengenai peraturan Bank Indonesia tentang penarikan uang , namun mereka mengatakan belum pernah mendengar atau membacanya. Ada salah seorang teman senior bilang :
“Sini aku tukar 1 lembar buat kenang kenangan” katanya.
Aku berikan kepadanya dan ditukarnya dengan lembaran lima ratusan yang berlaku saat itu.
Salah seorang yang lain mengatakan :
“Besok aku mau ke Bank Indonesia mau ketemu seseorang. Kalau kamu mau besok ikut aku. Bawa uangnya kita coba tukarkan disana”.
“Baik pak besok saya bawa”.

Besoknya aku bawa semua uangnya. Kira-kira jam 11.00 temanku mengajak berangkat ke Bank Indonesia di jalan Thamrin dengan mengendarai sepeda motor. Temanku pakai kaca mata hitam, gagah juga kelihatannya. Aku berpikir kalau nanti uangnya bisa ditukar, aku akan beli kaca mata untuk dipakai kalau naik motor. Aku tanya padanya :
“Pak beli kaca mata itu berapa pak?”
“Lima ratus”
“yang bener, masak kaca mata kaya gitu lima ratus”
“Ya kalu nggak percaya ya sudah. Aku paling senang kalau ada orang bilang barang yang kupakai mahal”.
“Kalau gitu tolong dong sekalian anterin ke Tanah Abang beli kaca mata sekalian makan”.
Tidak lama perjalanan dari kantor ke B.I. Kantorku di jalan Merdeka Utara dekat istana jadi hanya melewati jalan Merdeka Barat sudah sampai.

Sampai di B.I., Temanku menemui dulu kenalannya. Setelah selesai keperluan dia, kemudian kami menuju ke lantai II tempat penukaran uang. Disini bank-bank biasa mengambil uang untuk keperluan transaksi hariannya. Aku lihat disitu uang sepertinya dianggap barang saja. Membawanya dari gudang uang (ruang kazanah) memakai kereta dorong seperti yang biasa dipakai untuk membawa barang dagangan. Ternyata tidak ada hambatan sedikitpun menukar uang yang sudah lama ditarik dari peredaran. Legalah perasaanku. Dari B.I. kemudian ke Tanah Abang mampir dulu di warung makan Padang baru cari kaca mata. Setelah tawar menawar jadilah aku beli kaca mata dengan harga Rp.750,-. untuk dipakai kalau naik motor.

Kaca mata yang aku beli ini juga punya cerita sendiri. Besoknya aku naik motor kekantor dengan memakai kaca mata baru. Sampai depan kantor ada teman wanita dari bagian lain yang baru saja menyeberang jalan depan kantor. Dia masuk pintu depan dan aku menuju ke belakang memarkir motor dulu. Tidak lama aku masuk ruangan kerja, datanglah teman tadi dan bertanya :
“Guh kaca mata kamu baru ya, lhat dong”
“Beli dimana ini?”.
“Di optik Tanah Abang”, jawabku. Padahal di gelaran kaki lima.
“Mahal ini ya, Berapa sih harganya?”.
“Coba kamu tebak kira-kira berapa”. Kemudian diperhatikan lagi kaca mataku.
“Sepuluh ribu, lebih ya?”.
“Ya sekitar segitu, tapi kamu bisa dapat 1 losin”, Jawabku.
“Yang benar dong kalau ditanya”
“Ya benar, aku beli Rp.750,-. Kalau nggak percaya tanya sama pak Hamid. Kemarin dia yang mengantar aku ke Tanah Abang”.
“Masak sih, kok murah ya”.
“Ya memang segitu. Tapi kalau kamu beliin pacarmu jangan bilang kalau harganya Rp.750,-“.
“Ah bisa aja kamu”.

Kembali ke ….. lap top. Berapa besar sih Rp.15.000,- uang yang aku temu itu kalau dinilai sekarang? Sebagai gambaran waktu itu aku dan teman-teman kantor sering makan mie ayam model gerobag di belakang Bank of America (sebelah kantorku) semangkok Rp.100,-. Jadi uang tersebut bisa beli 150 mangkok mie ayam. Kalau tiap hari beli semangkok bisa untuk 5 bulan. Kalau sekarang harga mie ayam sekitar Rp.7.000,- / mangkok, berarti 150 x Rp.7000,- = Rp.1.050.000,-. Atau kalau dibandingkan dengan yang lain. Kalau makan siang sering juga aku dan teman-teman makan soto betawi di Harmoni. Seporsi soto dengan nasi waktu itu harganya Rp.150,-. Berarti uang Rp.15.000,- bisa beli 100 porsi. Kalau sekarang seporsi Rp.10.000,- berarti 100 mangkok adalah Rp.1.000.000,-. Jadi pas kalau Rp.15.000,- dulu itu nilainya sekitar 1 juta sekarang. Nah kalau kita lagi bokek nemu satu juta rupiah kan senang sekali bukan? Bahkan nggak lagi bokekpun senang banget. Makanya kalau nggak bisa ditukar alangkah sedihnya aku.

Sumber: tsubiyoto.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s